Skip to main content

Menghapus Stigma, Menumbuhkan Harapan bagi ODMK: Perjalanan Griya Schizofren

 Griya Schizofren


 

Pernahkah melihat seseorang di jalan tampak berbicara sendiri, dengan penampilan lusuh, tidak berpakaian layak, bahkan ada yang berpakaian tidak menutupi aurat yang harusnya tidak boleh terlihat orang lain?

Ya, ini bukan sebuah pemandangan langka. Karena hampir di setiap tempat, orang seperti itu bisa kita jumpai. Melihat hal itu, mungkin atau tak jarang banyak dari kita yang akan langsung memberi label “orang gila” atau “orang berbahaya”.

Padahal, sebenarnya mereka juga manusia yang sama dengan kita. Hanya saja, mereka sedang dalam situasi tidak beruntung lantaran harus menjalani ujian hidup, yang harus berjuang dengan kondisi mentalnya yang rapuh, di mana terkadang di balik itu semua ada kisah pilu yang telah mereka lalui.

Mereka adalah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), bukan orang gila yang kebanyakan dari kita terkadang cenderung suka mendiskriminasi mereka. Bahkan banyak anak-anak yang suka mengolok-olok mereka sembari melempar kerikil. Dan mirisnya, beberapa orang dewasa abai melihat ini.

Tak sampai di situ, yang lebih disayangkan lagi adalah sikap keluarga, yang harusnya menjadi pelindung dan tempat paling aman memulihkan diri. Tak jarang banyak yang menelantarkan ODMK, bahkan menganggap mereka adalah aib keluarga yang harus disembunyikan.

Inilah yang sering kita saksikan, di mana beberapa keluarga memasung anggota keluarganya yang dianggap punya gangguan jiwa. Mereka enggan membawa ke rumah sakit karena lebih memikirkan rasa malu.

Stigma terkait ODMK memang mengakar kuat di masyarakat. Padahal dampak Stigma ini justru yang makin memperparah kondisi ODMK.


Stigma terhadap ODMK

Regulasi dan Realita Kehidupan Orang dengan Gangguan Kejiwaan

Pada dasarnya ODMK memiliki hak yang telah dijamin oleh Undang-Undang. Sayangnya, dalam praktiknya banyak ditemukan adanya tindak diskriminasi dan kekerasan, baik secara fisik maupun simbolik.

Dalam UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa disebutkan:

  1. Menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa yang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
  2. Menegaskan bahwa ODMK dan ODGJ berhak atas perlakuan manusiawi, tidak diskriminatif, dan bebas dari kekerasan.

Selanjutnya dalam UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan tertulis:

Memperkuat definisi dan hak ODGJ sebagai bagian dari kelompok disabilitas yang harus dilindungi secara sistemik.

Lantas, seperti apa bentuk diskriminasi dan kekerasan yang kerap dialami oleh ODMK?

  1. Kekerasan Fisik: Pemasungan, pengurungan, pemukulan, dan pemaksaan tindakan medis tanpa persetujuan.
  2. Kekerasan Simbolik:   Pelebelan negatif seperti “gila”, hinaan, dan stereotip yang merendahkan martabat mereka.
  3. Pengucilan Sosial dan Pengusiran: ODMK sering diusir dari lingkungan tempat mereka tinggal karena dianggap memalukan atau berbahaya.
  4. Pengabaian Hak Hukum: Tidak diberi hak untuk menyatakan pendapat, tidak mendapat perlindungan hukum saat mengalami kekerasan, dan tidak diakui sebagai subjek hukum

Fakta dan Data Kesehatan Jiwa di Indonesia

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) menunjukkan, prevalensi depresi di Indonesia pada 2023 mencapai 1,4 persen, dengan kelompok usia muda (15–24 tahun) memiliki angka tertinggi yaitu 2 persen.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin juga menyebutkan bahwa 1 dari 10 orang di Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa.

"Di Indonesia itu, satu dari sepuluh orang terdeteksi. Deteksi dini gangguan jiwa saya kira masih lemah sekali, belum advance," kata Menkes Budi dalam Rapat Kerja DPR RI Komisi IX yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa, dikutip dari Antara News.

Kasus nyata yang terjadi di lapangan pun masih banyak, misalnya di kotaku di Lampung, di mana ada seorang warga yang mengalami gangguan kejiwaan akibat kehilangan pekerjaan dan terlilit hutang. Ia pun dipasung oleh keluarganya karena dianggap membahayakan lingkungannya. Namun setelah mendapat pendampingan dari Dinkes Provinsi Lampung, keluarga sepakat membawanya ke rumah sakit.

Data terkait gangguan kejiwaan ini menegaskan bahwa, masalah kesehatan jiwa adalah bukan tentang isu kecil, melainkan sebuah fenomena nyata yang banyak terjadi di masyarakat.

Mereka, para ODMK bukan sekadar “orang yang berbeda”, tetapi adalah bagian dari masyarakat yang sangat butuh dukungan kita semua. Dengan adanya angka prevalensi yang muncul dalam laporan resmi, menyiratkan pesan yang mengajak kita agar lebih peduli. Bukan hanya melihat ODMK sebagai “penderita” atau aib, tetapi melihat mereka sebagai manusia yang juga punya hak untuk dimanusiakan.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, berikut ini adalah tiga langkah utama untuk memutus rantai stigma ODMK:

  1. Edukasi yang berkelanjutan ke masyarakat tentang kesehatan jiwa agar tidak melulu dikaitkan dengan mitos atau moral.
  2. Meningkatkan akses layanan medis yang ramah dan tidak diskriminatif.
  3. Melibatkan komunitas dalam menjalankan kampanye anti-stigma, sehingga ODMK bisa diterima kembali di masyarakat.

Panggilan Hati Memanusiakan ODMK Melalui Aksi Nyata

Di tengah fakta tentang perlakuan masyarakat terhadap ODMK dan stigma yang ada, seorang perempuan asal Jawa Tengah bernama Triana Rahmawati ikut merasa gelisah. Hatinya terusik dengan diskriminasi kebanyakan orang dalam memandang mereka yang sedang mengalami kerapuhan mental.


Triana Rahmawati Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards

Sumber: Instagram @uleetria

Tria, panggilan akrabnya bukanlah seorang psikolog atau pun dokter. Saat itu perempuan yang kini berprofesi sebagai Dosen di UNS ini hanya seorang mahasiswa sosiologi di Universitas Sebelas Maret, yang prihatin dengan hidup ODMK yang tersingkir dari masyarakat bahkan keluarga mereka sendiri.

Ternyata Tria juga pengalaman pribadi. Ia tumbuh dekat dengan sepupunya yang mengalami down syndrome. Dari sinilah ia belajar bahwa keterbatasan bukan jadi alasan untuk menutup pintu kasih sayang kita pada sesama. Ketika ia kuliah dan kebetulan kosnya berdekatan dengan rumah sakit jiwa dan tempat rehabilitasi ODMK, hatinya kembali merasa terpanggil untuk juga bisa melakukan sesuatu.

Bersama dua sahabatnya, Febrianti Dwi Lestari dan Wulandari, Tria mengajak mereka untuk berbuat sesuatu bagi ODMK. Langkah awal mereka lakukan dengan berkeliling mencari panti yang mau menerima dengan tangan terbuka. Mereka juga ingin mempelajari isu kesehatan mental, yang termasuk salah satu masalah signifikan yang banyak terjadi di masyarakat saat ini.

Niat baik mereka pun bersambut saat ketiga mahasiswa yang ingin berkontribusi bagi masyarakat itu datang ke salah satu griya yang kebetulan fokus pada kesehatan mental, Griya PMI Peduli Surakarta yang berlokasi di Kelurahan Mojosongo.

Salah satu pengurus Griya PMI tersebut, Pak Tri menyambut mereka dengan tangan terbuka. Ia mengizinkan Tia dan kedua temannya bertemu langsung dengan ODMK di Griya PMI Peduli.

Tria dan kedua temannya begitu antusias. Mereka pun segera menemui ODMK di Griya PMI Peduli yang pada saat itu berjumlah sekitar 30 orang. Awalnya mereka sangat gugup dan ada sedikit rasa cemas. Namun, ternyata stigma masyarakat tentang ODMK langsung terpatahkan saat mereka mulai berinteraksi hingga bernyanyi bersama para ODMK.

Sejak tahun 2012 Griya PMI ini menampung ODMK yang terlantar dan tak punya arah tujuan. Di sini para OMDK diajak bernyanyi dan menggambar sebagai bagian dari terapi psikologis untuk menstabilkan kondisi kejiwaannya.

Ketika saya bertanya pada Tria, “Apa sih yang melatarbelakangi diinya sangat tertarik dengan dunia sosial hingga membuka tangannya lebar-lebar untuk para ODMK?” Jawabannya sungguh luar biasa dan membuka mata saya tentang arti hidup bermanfaat yang sesungguhnya.

“Kejarlah akherat, maka dunia mengikuti”

“Mungkin itu nasihat meninggalnya ibuku di usiaku 17 tahun. Berat rasanya melepas orang yang penuh kekurangan, tapi perannya itu menyempurnakan kehidupan. Meninggalnya menyisakan makna mendalam, bahwa dunia hanya sebentar, tidak ada satupun yang dibawa pulang, semua ditinggal. Maka sejak saat itu aku suka sosial. Hidup tentang memberi, sebanyak-banyaknya dan hidup tentang perjuangan. 3 hal yang diperjuangkan selepas ibuku meninggal menjadi anak yang shalih shalihah, makanya sejak saat itu aku langsung pakai jilbab, mengamalkan ilmu yang bermanfaat, itulah alasanku memilih menjadi dosen, dan beramal jariyah buat bantuin banyak orang (mensejahterakan dan mengangkat derajat ODMK).”

Momen Haru yang Membuka Mata Terhadap OMDK

Ada satu kisah haru yang Tria ceritakan dalam siaran langsung di Instagram bersama Dian Sastro. Saat itu, para ODMK menyanyikan lagu “Kasih Ibu”. Tiba-tiba banyak dari mereka yang menangis. Bukan karena lagunya, tetapi rasa rindu mereka pada keluarga yang tak tahu entah ada di mana.

Di tengah rasa ditinggalkan, hilang arah, dan tanpa dukungan orang-orang tersayang, namun mereka tetap menyimpan kerinduan mendalam. Terbayang kan bagaimana perasaan itu? Mungkin kita yang menyaksikannya pun akan ikut terbawa suasana pilu yang luar biasa.

Dari kejadian ini, Tria pun semakin yakin bahwa ODMK bukanlah sosok berbahaya yang mengancam. Karena sejatinya, mereka juga punya rasa yang sama seperti kita.

Griya Schizofren, Rumah Nyaman bagi OMDK

“Semua yang dari hati kembali ke hati ". Salah satu passion saya di dunia sosial adalah belajar dengan mereka yang mengalami masalah kejiwaan untuk menghargai kesehatan jiwa yang Allah berikan, namun lupa untuk disyukuri utuh oleh perasaan.”

“Dan, passion yang awalnya hanya ingin sekedar berbagi hati dengan mereka, menjadi berkembang dengan membuat rumah singgah ramah manusia,” ungkap Tria.


Griya Schizofren
Sumber: Instagram @griya.schizofren


Tria pun melakukan tindakan nyata atas kepeduliannya pada ODMK dengan mendirikan Griya Schizofren pada 10 Oktober 2012. Uniknya, nama itu bukan sekadar nama saja. Tetapi ada makna istimewa yang dibawanya, yakni:

·        Griya berarti rumah (tempat pulang)

·        Sc (Social), wadah anak muda menyalurkan jiwa sosial.

·        Hi (Humanity), gerakan yang lahir dari rasa kemanusiaan.

·        Fren (Friendly), prinsip persahabatan dengan ODMK.

Komunitas ini tidak bertujuan “menyembuhkan”, tapi menjadi teman bagi para ODMK yang tersingkirkan dari masyarakat dan keluarganya. Di sini mereka benyanyi bersama, menggambar, bercerita, atau juga sekadar mendengarkan. Hal-hal ini mungkin terlihat sederhana, tapi justru itulah yang membuat para ODMK ini merasa dimanusiakan dan kembali diakui sebagai manusia.

Sejak berdiri, Griya Schizofren konsisten dalam mengisi ruang kesendirian ODMK. Relawan datang seminggu sekali, selama dua jam untuk menemani dan membangun interaksi positif. Ada yang mengajak olahraga, mengaji, hingga membuat karya seni.

Griya ini juga bertujuan mengampanyekan tentang kesehatan mental, agar lebih banyak anak muda sadar pentingnya menjaga mental health serta peduli pada orang lain.

Pada 2013 Tria dan teman-temanya memutuskan menjadikan Griya Schizofren sebagai sebuah komunitas tersistem. Mereka mulai membuka kesempatan berkontribusi sosial bagi relawan muda yang tersebar di Surakarta.

Namun setelah lulus kuliah, Febri dan Wulan harus kembali ke Jakarta. Sementara Tria memutuskan tetap melanjutkan gerakan sosial yang dibangunnya tersebut bersama para relawan.

“Karena aku juga punya jiwa. Berarti kemungkinan aku bisa seperti mereka atau bisa juga punya masalah kejiwaan. Itulah mengapa aku bisa menghargai kesehatan jiwaku ketika bertemu mereka. Dari mereka aku belajar untuk bersyukur dan sadar kalau kesehatan jiwa yang kita miliki sering kita lupakan padahal itu menempel di dalam diri”, ungkap Tria di sebuah wawancara dengan CNN Indonesia.

Griya Schizofren ini juga selalu menerima dengan tangan terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut berkontribusi memberikan kehidupan layak untuk ODMK secara materi.

Misalnya, pada Desember 2017 dan Juni 2018 komunitas sosial ini mengadakan "Rice Festival", yakni kegiatan festival kebaikan berbagi secangkir beras bagi ODMK di Griya PMI Peduli. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan beras di Griya PMI (sekitar 1,5 ton per bulan). Dengan festival tersebut, diharapkan dapat membantu meringankan beban PMI.

Seni yang Menyembuhkan, Karya yang Memberdayakan ODMK

Ada banyak cara dalam merawat jiwa. Salah satunya lewat seni. Bagi ODMK, kegiatan menggambar, mewarnai, atau bernyanyi adalah bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Akan tetapi ini adalah jembatan bagi mereka untuk mengenali diri, menyalurkan emosi, serta membangun kembali keterampilan sosial yang mungkin saja sempat hilang.

 

Kegiatan positif para ODMK

Salah satu kegiatan ODMK di Griya Schizofren (Sumber: Instagram @griya.schizofren)

 

Di Griya PMI Peduli, Tria bersama komunitas Griya Schizofren sering mengajak para ODMK untuk berkarya dengan alat sederhana seperti pensil warna dan kertas. Namun dari situlah lahir sesuatu yang lebih besar bagi mereka.

Tria pun tidak ingin karya mereka hanya berhenti sebagai pajangan. Maka ia pun mendirikan usaha sosial bernama SOLVE (Souvenir and Love) by Givo. Ide yang sederhana ini ternyata cukup memberi dampak.

Gambar para ODMK diolah secara digital dan dijadikan cendera mata seperti tas, mug, atau gantungan kunci.


Produk karya ODMK

Salah satu produk karya OMDK (Sumber: Instagram @solvenesia)


Sejak 2018, anak-anak muda di Surakarta pun ikut bergabung dalam gerakan ini. Mereka membantu memilihkan gambar terbaik, lalu mengunggahnya ke media sosial. Selanjutnya membiarkan pembeli menentukan sendiri karya mana yang ingin dijadikan sebagai suvenir.

Keuntungan dari penjualan produk ODMK ini tidak berhenti di kas komunitas. Semua dikembalikan kepada ODMK yang menggambar. ODMK tidak hanya dibantu, tetapi juga diberdayakan. Harapannya agar semangat mereka tumbuh, terutama rasa percaya diri.

“Setiap goresan punya cerita. Dan ketika cerita itu dihargai, mereka merasa kembali berarti,” kata Tria.

Apresiasi SATU Indonesia Awards Mantapkan Hati untuk Terus Berdampak bagi Negeri

Apakah aksi sosial yang dijalankan Tria tanpa hambatan? Tidak. Perjalanan ini tidak selalu mulus. Tria pernah merasa lelah dan ingin menyerah. Ia pun menceritakan apa yang dirasakannya kepada Siswandi, suaminya.

Ternyata sang suami yang selalu mendukung penuh setiap kegiatan sosial istrinya, mendaftarkan Tria ikut dalam apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards tahun 2017.

Kontribusi dan kepedulian Tria pada sekitarnya dinilai sangat menginspirasi dan berdampak luas, hingga akhirnya ia pun dinyatakan layak menjadi salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2017 Bidang Kesehatan.

 

Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2017

Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2027 (Sumber: Tempo.co)

 

“Menjadi bagian dari SATU Indonesia Awards ini sungguh bukan karena aku lagi semangat atau pesimis. Tapi aku benar-benar lagi down buat ngelanjutin komunitas Griya Schizofren. Terima kasih Astra melalui Program SATU Indonesia Awards-nya. Astra menjadi bagian nafas kebaikan yang jauh lebih panjang”, tulis Tria di akun Instagramnya @uleetria.

Saat mendapatkan hadiah uang dengan total Rp70juta dari Astra, Tria bingung untuk menggunakan uang tersebut. Ia yang belum pernah memiliki uang sebanyak itu ingin memenuhi kebutuhan pribadi. Ia diskusikan dengan keluaganya dan kemudia mengirim pesan kepada sang suami.

Emasis, panggilan akrab suaminya hanya mengatakan “Balikin ke niat awalnya kamu. Niat awalnya untuk mensejahterakan, mengangkat derajat orang-orang dengan masalah kejiwaan. Nanti Allah yang akan angkat derajat kamu.”

Ucapan ini sontak menyadarkan Tria dan makin bersemangat dalam kegiatan sosialnya.

Apresiasi SATU Indonesia Awards tersebut telah menjadi kobaran semangat untuk semakin memberi dampak kebaikan yang lebih luas lagi dalam gerakan sosial.

Bagi Tria, menjadi salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards bukan hanya soal pencapaian bergengsi dengan nominal uang besar saat itu saja. Karena SATU Indonesia Awards adalah bukan awarding ceremony sehari itu saja. Setiap penerima apresiasi akan terus didampingi agar bisa terus berkembang. Bahkan para alumni penerima awards terus dilibatkan untuk menyambut penerima baru yang hadir setiap tahunnya.

Hingga saat ini, Tria pun masih mendapatkan pendampingan dari Astra dan berkolaborasi untuk berbagai kegiatan sosial.

Di antaranya, pada Desember 2022 Griya Schizofren bersama Astra Internasional wilayah Solo berkolaborasi membagikan 150 paket sembako dalam program kemanusiaan Astra untuk desa binaan Kopassus.

Lalu pada masa pandemi, Tria yang sebagai penerima kategori bidang kesehatan, dikirimkan Astra kebutuhan berupa vitamin, sarung tangan, dan masker untuk disalurkan ke Griya PMI Peduli Surakarta melalui Griya Schizofren.

Komitmen ASTRA bagi Masa Depan Indonesia

Astra telah menunjukkan komitmennya untuk berkontribusi pada masa depan Indonesia melalui berbagai program dan inisiatif.

Salah satunya adalah program SATU Indonesia Awards, di mana ASTRA memberikan apresiasi kepada putra putri bangsa yang telah berdedikasi dan berkontribusi mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan melalui lima bidang, yakni Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.

Hingga di usia yang ke 16 tahun pada tahun 2025 ini, ASTRA terus mencari sosok pemuda pemudi, yang menjadi pengerak bangsa yang bisa memberi perubahan nyata di masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa Astra terus berupaya untuk  memberikan kontribusi positifnya bagi masyarakat dan bangsa Indonesia untuk hari ini dan masa depan Indonesia tentunya, di mana kontribusi ini juga sejalan dengan cita-cita ASTRA untuk sejahtera bersama serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia.

Satukan Gerak, Terus Berdampak

Hingga saat ini, Tria masih aktif melanjutkan kampanye sosialnya untuk mengubah stigma terhadap ODMK. Bersama para relawan, ia gigih memperjuangkan Indonesia bebas stigma, terutama agar OMDK tidak lagi dikucilkan dan bisa mendapatkan hak hidup layak sebagai manusia seutuhnya.

Dalam kampanyenya, Tria tak bosan menginformasikan bahwa ODMK bukan aib dan mereka tidak berbahaya. Buktinya adalah dirinya sendiri yang selalu baik-baik saja saat berkunjung ke Griya PMI Peduli Sukarta dan berinteraksi langsung dengan para OMDK.

Bagi Tria, melihat senyum Bahagia yang terlukis di wajah para relawan dan ODMK adalah salah satu pecut semangat Tria untuk terus memupuk harapan pemulihan kondisi kejiwaan para OMDK.

Tria bermimpi, kelak Griya Schizofren dapat hadir di seluruh Indonesia dengan prinsip sosial dan kemanusiaan untuk merangkul OMDK, karena mereka juga manusia yang punya rasa sama dengan kita.

Griya Schizofren yang lahir dari kegelisahan seorang mahasiswi ini telah berkembang menjadi gerakan sosial luar biasa dengan dampak positifnya. Ia kini menjadi rumah bagi banyak ODMK.

Kisah ini bukan sekadar tentang mereka, akan tetapi juga tentang kita semua yang disebut manusia. Apakah kita mau melihat ODMK sebagai manusia seutuhnya, atau terus menutup mata dengan stigma?

Kalau seorang Tria bisa memulai dari langkah kecil membangun harapan bagi OMDK dengan beryanyi bersama, mendengarkan cerita, ataupun menggambar, maka kita juga bisa selama punya tekad dan niat tulus.

Mari kita lihat sekitar dengan menggunakan Nurani, karena ini adalah cara terbaik membangun kesadaran sebagai manusia. Dan memanusiakan orang lain, adalah cara terbaik untuk tetap menjadi manusia.

#KitaSATUIndonesia

 

Referensi:

https://kemkes.go.id/id/memutus-rantai-stigma-kesehatan-jiwa

https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5532/1/03%20factsheet%20Keswa_bahasa.pdf

https://www.antaranews.com/berita/3812061/menkes-1-dari-10-orang-indonesia-alami-gangguan-kesehatan-jiwa

https://peraturan.go.id/files/uu18-2014pjl.pdf

Instagram resmi Triana Rahmawati @uleetria

Instagram resmi Griya Schizofren @griya.schizofren

Percakapan online Bersama Triana Rahmawati melalui Instagram

Comments

  1. Semoga dengan apresiasi yang digiatkan ASTRA menjadi penyemangat bermunculannya Kak Tria lain dengan Griya Scizofren yang merangkul ODMK yang selalu ada hampir di setiap pelosok di negeri ini.
    Selamat untuk kak Tria untuk ASTRA Award-nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Iya kak, semoga Indonesia makin maju dan a big thanks to ASTRA yang sebegitu care dengan masa depan Indonesia melalui program2nua

      Delete
  2. Ini hal yang mindblowing bagi saya pribadi dan saya sangat salut dengan inovasi yang sudah diterapkan. Stop beri stigma negatif terhadap ODMK, mari membersamai mereka untuk bisa terus berkarya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut banget ya sama mereka yang berdedikasi tinggi bagi sekitarnya, terlebih yg mau menyentuh mereka yg terpinggirkan seperti ODMK

      Delete
  3. erkah banget langkah Tria dengan Griya Schizofren ya?
    Karena sekarang semakin banyak anak muda mengalaminya tapi bingung mau ke mana
    Tau sendiri, biaya ke dokter spesialis kan mahal

    ReplyDelete
  4. Istilah ODMK baru saya tahu. Sebelumnya sering menggunakan ODGJ.
    Terlepas apapun istilahnya, mereka memang manusia yang sedang membutuhkan perhatian khusus. Kita yg sehat ini yg seharusnya memperhatikan mereka
    Salut dengan pihak yang selalu berkorban untuk kepentingan ODMK ini

    ReplyDelete
  5. Saya setuju sekali bahwa stigma adalah tembok terbesar yang menghalangi ODMK untuk mendapatkan pertolongan yang layak. Penting bagi kita, untuk menghapus label negatif dan menggantinya dengan empati serta dukungan. Beri kesempatan mereka untuk berkarya.

    ReplyDelete
  6. Iya sih. Masih banyak orang yang menganggap ODMK (meski aku lebih akrab dengan istilah ODGJ) sebagai aib. Makanya, bukannya nggak banyak orang yang ODMK malah terpasung dan dijauhi keluarga.

    ReplyDelete
  7. Bagus-bagus totebag karya pada ODMK tersebut. Kalau dibimbing dan didampingi mereka ini sama aja kok dengan kita-kita. Semoga kiprah Griya Schizofren menular juga vibes positifnya ke kota-kota lain yah...

    ReplyDelete
  8. Belum banyak pihak yg mau untuk bergerak dalam merawat serta memberikan pendampingan para ODMK karena beberapa alasan padahal memahami tentang isu kejiwaan adalah penting bagi segenap masyrakat.

    ReplyDelete
  9. Jaman sekarang kita kudu melek mengenai ODMK. karena mereka butuh pendampingan serta perhatian kita. Jika diterapi dan minum obat insyaallah mereka akan sembuh dan normal kembali walaupun tetap harus rutin minum obat.b

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Game Level 3 Day 4: Mencari Peluang Lewat Lomba

Untuk mendapatkan suatu keinginan tidaklah melulu harus dipenuhi dengan mengeluarkan sejumlah nominal pribadi. Karena sejatinya ada banyak cara untuk bisa meraihnya. Salah satunya adalah melalui sebuah kompetisi. Tetapi untuk hal ini diperlukan beberapa faktor agar dalam sebuah kompetisi kita bisa menjadi pemenangnya.  Aku sangat suka menantang diri untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai tantangan atau pun kompetisi. Terutama dalam bidang kepenulisan. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan sekaligus mengasah ilmu yang dimiliki. Kebetulan sedang ada lomba blog yang menawarkan hadiah smartphone terbaru. Wah...kenapa tidak kucoba. Pikirku. Aku kan ingin #GantiGadget2019. Akhirnya kumulai menulis di blog utama untuk me- review smartphone yang sedang dilombakan. Semangat dan keyakinan sangat membantuku dalam mengetikkan kata demi kata. Artikel yang diminta harus natural (soft selling) dan penyampaian menarik. Setelah selesai dengan artikel, dengan penuh percaya diri ...

Think Positively

Emosi merupakan bagian dari kemudi kehidupan yang dapat mempengaruhi kualitas kehidupan. Itulah mengapa kita perlu mengolah emosi dengan baik, agar memberikan kontribusi yang positif dalam roda kehidupan. Tidak perlu bereaksi berlebihan ketika dihadapkan pada sanjungan atau pun kritikan. Tetapi jadikan sema itu sebagai sarana membangun sikap dan karakter diri yang lebih bijak. Senang sekali rsanya saat karya kita diapresiasi oleh orang lain. Meskipun hanya sebatas pujian sederhana. Paling tidak respon positif itu telah menjadi suntikan semangat untuk terus berkarya. Dalam sebuah diskusi group fotografi, kuberanikan diri meng- upload hasil memotret saat berada di Tangkuban Perahu. Banyak yang kagum dengan foto itu. Dan beberapa ada yang memuji hasil jepretan amatiran sepertiku. Namun tak semua menaggapi dengan pujian. Ada juga yang mengkritik. Intinya memberikan kritikan membangun bahwa masih banyak yang harus kupelajari lebih dalam untuk menghasilkan foto bagus dan berkua...

Game Level 4: Gaya Belajar Day 2

Dua pekan lalu aku mendapatkan voucher dari cafe G’Ummati karena berhasil memenangkan lomba blog bertema “Sensor Mandiri,Bijak Membentuk Generasi”. Dan hari ini aku pergi ke cafe tersebut untuk memanfaatkan nominal voucher yang kudapatkan. Alhamdulillah bisa makan sepuasnya dan tambahan membawa pulang menu makanan lainnya. Selama menunggu pesanan, kumanfaatkan waktu memerhatikan sekitar dan mencatat hal-hal menarik yang tertangkap oleh mata. Ya, ini juga merupakan bagian kebiasaanku saat berada di sebuah tempat. Dan biasanya hasil pengamatan ini kugunakan sebagai bahan untuk membuat tulisan di blog. Hmm…lumayan lama juga menunggu. Jika dibiarkan tanpa aktivitas, bisa-bisa rasa jenuh dan bad mood datang menghampiri. Suasana cafe memang tidak sepi. Ada alunan musik dan banyak orang. Tetapi kondisiku yang sendirian sangat berpotensi mengundang rasa jenuh tentunya. Segera kukeluarkan jurnal dan mulai mengembangkan ide-ide yang ada di jurnal. Alhamdulillah bisa menyicil tulisan yan...