Pernahkah
melihat seseorang di jalan tampak berbicara sendiri, dengan penampilan lusuh, tidak
berpakaian layak, bahkan ada yang berpakaian tidak menutupi aurat yang harusnya
tidak boleh terlihat orang lain?
Ya,
ini bukan sebuah pemandangan langka. Karena hampir di setiap tempat, orang
seperti itu bisa kita jumpai. Melihat hal itu, mungkin atau tak jarang banyak
dari kita yang akan langsung memberi label “orang gila” atau “orang berbahaya”.
Padahal,
sebenarnya mereka juga manusia yang sama dengan kita. Hanya saja, mereka sedang
dalam situasi tidak beruntung lantaran harus menjalani ujian hidup, yang harus
berjuang dengan kondisi mentalnya yang rapuh, di mana terkadang di balik itu
semua ada kisah pilu yang telah mereka lalui.
Mereka
adalah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), bukan orang gila yang kebanyakan
dari kita terkadang cenderung suka mendiskriminasi mereka. Bahkan banyak
anak-anak yang suka mengolok-olok mereka sembari melempar kerikil. Dan mirisnya,
beberapa orang dewasa abai melihat ini.
Tak
sampai di situ, yang lebih disayangkan lagi adalah sikap keluarga, yang harusnya
menjadi pelindung dan tempat paling aman memulihkan diri. Tak jarang banyak
yang menelantarkan ODMK, bahkan menganggap mereka adalah aib keluarga yang
harus disembunyikan.
Inilah
yang sering kita saksikan, di mana beberapa keluarga memasung anggota
keluarganya yang dianggap punya gangguan jiwa. Mereka enggan membawa ke rumah
sakit karena lebih memikirkan rasa malu.
Stigma
terkait ODMK memang mengakar kuat di masyarakat. Padahal dampak Stigma ini justru
yang makin memperparah kondisi ODMK.
Regulasi
dan Realita Kehidupan Orang dengan Gangguan Kejiwaan
Pada
dasarnya ODMK memiliki hak yang telah dijamin oleh Undang-Undang. Sayangnya, dalam
praktiknya banyak ditemukan adanya tindak diskriminasi dan kekerasan, baik
secara fisik maupun simbolik.
Dalam UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa disebutkan:
- Menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa yang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
- Menegaskan bahwa ODMK dan ODGJ berhak atas perlakuan manusiawi, tidak diskriminatif, dan bebas dari kekerasan.
Selanjutnya dalam UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan tertulis:
Memperkuat
definisi dan hak ODGJ sebagai bagian dari kelompok disabilitas yang harus
dilindungi secara sistemik.
Lantas, seperti apa bentuk diskriminasi dan kekerasan yang kerap dialami oleh ODMK?
- Kekerasan Fisik: Pemasungan, pengurungan, pemukulan, dan pemaksaan tindakan medis tanpa persetujuan.
- Kekerasan Simbolik: Pelebelan negatif seperti “gila”, hinaan, dan stereotip yang merendahkan martabat mereka.
- Pengucilan Sosial dan Pengusiran: ODMK sering diusir dari lingkungan tempat mereka tinggal karena dianggap memalukan atau berbahaya.
- Pengabaian Hak Hukum: Tidak diberi hak untuk menyatakan pendapat, tidak mendapat perlindungan hukum saat mengalami kekerasan, dan tidak diakui sebagai subjek hukum
Fakta
dan Data Kesehatan Jiwa di Indonesia
Data
terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) menunjukkan, prevalensi
depresi di Indonesia pada 2023 mencapai 1,4 persen, dengan kelompok usia muda
(15–24 tahun) memiliki angka tertinggi yaitu 2 persen.
Menteri
Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin juga menyebutkan bahwa 1 dari 10 orang di Indonesia
mengalami gangguan kesehatan jiwa.
"Di
Indonesia itu, satu dari sepuluh orang terdeteksi. Deteksi dini gangguan jiwa
saya kira masih lemah sekali, belum advance," kata Menkes Budi dalam Rapat
Kerja DPR RI Komisi IX yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa, dikutip
dari Antara News.
Kasus
nyata yang terjadi di lapangan pun masih banyak, misalnya di kotaku di Lampung,
di mana ada seorang warga yang mengalami gangguan kejiwaan akibat kehilangan
pekerjaan dan terlilit hutang. Ia pun dipasung oleh keluarganya karena dianggap
membahayakan lingkungannya. Namun setelah mendapat pendampingan dari Dinkes Provinsi
Lampung, keluarga sepakat membawanya ke rumah sakit.
Data
terkait gangguan kejiwaan ini menegaskan bahwa, masalah kesehatan jiwa adalah bukan
tentang isu kecil, melainkan sebuah fenomena nyata yang banyak terjadi di
masyarakat.
Mereka,
para ODMK bukan sekadar “orang yang berbeda”, tetapi adalah bagian dari
masyarakat yang sangat butuh dukungan kita semua. Dengan adanya angka
prevalensi yang muncul dalam laporan resmi, menyiratkan pesan yang mengajak
kita agar lebih peduli. Bukan hanya melihat ODMK sebagai “penderita” atau aib,
tetapi melihat mereka sebagai manusia yang juga punya hak untuk dimanusiakan.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, berikut ini adalah tiga langkah utama untuk memutus rantai stigma ODMK:
- Edukasi yang berkelanjutan ke masyarakat tentang kesehatan jiwa agar tidak melulu dikaitkan dengan mitos atau moral.
- Meningkatkan akses layanan medis yang ramah dan tidak diskriminatif.
- Melibatkan komunitas dalam menjalankan kampanye anti-stigma, sehingga ODMK bisa diterima kembali di masyarakat.
Panggilan
Hati Memanusiakan ODMK Melalui Aksi Nyata
Di
tengah fakta tentang perlakuan masyarakat terhadap ODMK dan stigma yang ada, seorang
perempuan asal Jawa Tengah bernama Triana Rahmawati ikut merasa gelisah. Hatinya
terusik dengan diskriminasi kebanyakan orang dalam memandang mereka yang sedang
mengalami kerapuhan mental.
Sumber:
Instagram @uleetria
Tria,
panggilan akrabnya bukanlah seorang psikolog atau pun dokter. Saat itu
perempuan yang kini berprofesi sebagai Dosen di UNS ini hanya seorang mahasiswa
sosiologi di Universitas Sebelas Maret, yang prihatin dengan hidup ODMK yang
tersingkir dari masyarakat bahkan keluarga mereka sendiri.
Ternyata
Tria juga pengalaman pribadi. Ia tumbuh dekat dengan sepupunya yang mengalami
down syndrome. Dari sinilah ia belajar bahwa keterbatasan bukan jadi alasan
untuk menutup pintu kasih sayang kita pada sesama. Ketika ia kuliah dan kebetulan
kosnya berdekatan dengan rumah sakit jiwa dan tempat rehabilitasi ODMK, hatinya
kembali merasa terpanggil untuk juga bisa melakukan sesuatu.
Bersama
dua sahabatnya, Febrianti Dwi Lestari dan Wulandari, Tria mengajak mereka untuk
berbuat sesuatu bagi ODMK. Langkah awal mereka lakukan dengan berkeliling
mencari panti yang mau menerima dengan tangan terbuka. Mereka juga ingin mempelajari
isu kesehatan mental, yang termasuk salah satu masalah signifikan yang banyak
terjadi di masyarakat saat ini.
Niat
baik mereka pun bersambut saat ketiga mahasiswa yang ingin berkontribusi bagi
masyarakat itu datang ke salah satu griya yang kebetulan fokus pada kesehatan
mental, Griya PMI Peduli Surakarta yang berlokasi di Kelurahan Mojosongo.
Salah
satu pengurus Griya PMI tersebut, Pak Tri menyambut mereka dengan tangan
terbuka. Ia mengizinkan Tia dan kedua temannya bertemu langsung dengan ODMK di
Griya PMI Peduli.
Tria
dan kedua temannya begitu antusias. Mereka pun segera menemui ODMK di Griya PMI
Peduli yang pada saat itu berjumlah sekitar 30 orang. Awalnya mereka sangat
gugup dan ada sedikit rasa cemas. Namun, ternyata stigma masyarakat tentang ODMK
langsung terpatahkan saat mereka mulai berinteraksi hingga bernyanyi bersama
para ODMK.
Sejak
tahun 2012 Griya PMI ini menampung ODMK yang terlantar dan tak punya arah
tujuan. Di sini para OMDK diajak bernyanyi dan menggambar sebagai bagian dari terapi
psikologis untuk menstabilkan kondisi kejiwaannya.
Ketika
saya bertanya pada Tria, “Apa sih yang melatarbelakangi diinya sangat tertarik
dengan dunia sosial hingga membuka tangannya lebar-lebar untuk para ODMK?” Jawabannya
sungguh luar biasa dan membuka mata saya tentang arti hidup bermanfaat yang
sesungguhnya.
“Kejarlah
akherat, maka dunia mengikuti”
“Mungkin
itu nasihat meninggalnya ibuku di usiaku 17 tahun. Berat rasanya melepas orang
yang penuh kekurangan, tapi perannya itu menyempurnakan kehidupan. Meninggalnya
menyisakan makna mendalam, bahwa dunia hanya sebentar, tidak ada satupun yang
dibawa pulang, semua ditinggal. Maka sejak saat itu aku suka sosial. Hidup
tentang memberi, sebanyak-banyaknya dan hidup tentang perjuangan. 3 hal yang
diperjuangkan selepas ibuku meninggal menjadi anak yang shalih shalihah,
makanya sejak saat itu aku langsung pakai jilbab, mengamalkan ilmu yang
bermanfaat, itulah alasanku memilih menjadi dosen, dan beramal jariyah buat
bantuin banyak orang (mensejahterakan dan mengangkat derajat ODMK).”
Momen
Haru yang Membuka Mata Terhadap OMDK
Ada
satu kisah haru yang Tria ceritakan dalam siaran langsung di Instagram bersama
Dian Sastro. Saat itu, para ODMK menyanyikan lagu “Kasih Ibu”. Tiba-tiba banyak
dari mereka yang menangis. Bukan karena lagunya, tetapi rasa rindu mereka pada
keluarga yang tak tahu entah ada di mana.
Di
tengah rasa ditinggalkan, hilang arah, dan tanpa dukungan orang-orang
tersayang, namun mereka tetap menyimpan kerinduan mendalam. Terbayang kan
bagaimana perasaan itu? Mungkin kita yang menyaksikannya pun akan ikut terbawa
suasana pilu yang luar biasa.
Dari
kejadian ini, Tria pun semakin yakin bahwa ODMK bukanlah sosok berbahaya yang
mengancam. Karena sejatinya, mereka juga punya rasa yang sama seperti kita.
Griya
Schizofren, Rumah Nyaman bagi OMDK
“Semua
yang dari hati kembali ke hati ". Salah satu passion saya di dunia sosial
adalah belajar dengan mereka yang mengalami masalah kejiwaan untuk menghargai
kesehatan jiwa yang Allah berikan, namun lupa untuk disyukuri utuh oleh
perasaan.”
“Dan, passion yang awalnya hanya ingin sekedar berbagi hati dengan mereka, menjadi berkembang dengan membuat rumah singgah ramah manusia,” ungkap Tria.
![]() |
| Sumber: Instagram @griya.schizofren |
Tria
pun melakukan tindakan nyata atas kepeduliannya pada ODMK dengan mendirikan
Griya Schizofren pada 10 Oktober 2012. Uniknya, nama itu bukan sekadar nama
saja. Tetapi ada makna istimewa yang dibawanya, yakni:
·
Griya berarti rumah (tempat pulang)
·
Sc (Social), wadah anak muda menyalurkan
jiwa sosial.
·
Hi (Humanity), gerakan yang lahir dari
rasa kemanusiaan.
·
Fren (Friendly), prinsip persahabatan
dengan ODMK.
Komunitas
ini tidak bertujuan “menyembuhkan”, tapi menjadi teman bagi para ODMK yang
tersingkirkan dari masyarakat dan keluarganya. Di sini mereka benyanyi bersama,
menggambar, bercerita, atau juga sekadar mendengarkan. Hal-hal ini mungkin
terlihat sederhana, tapi justru itulah yang membuat para ODMK ini merasa dimanusiakan
dan kembali diakui sebagai manusia.
Sejak
berdiri, Griya Schizofren konsisten dalam mengisi ruang kesendirian ODMK.
Relawan datang seminggu sekali, selama dua jam untuk menemani dan membangun
interaksi positif. Ada yang mengajak olahraga, mengaji, hingga membuat karya
seni.
Griya
ini juga bertujuan mengampanyekan tentang kesehatan mental, agar lebih banyak
anak muda sadar pentingnya menjaga mental health serta peduli pada orang lain.
Pada
2013 Tria dan teman-temanya memutuskan menjadikan Griya Schizofren sebagai
sebuah komunitas tersistem. Mereka mulai membuka kesempatan berkontribusi
sosial bagi relawan muda yang tersebar di Surakarta.
Namun
setelah lulus kuliah, Febri dan Wulan harus kembali ke Jakarta. Sementara Tria
memutuskan tetap melanjutkan gerakan sosial yang dibangunnya tersebut bersama
para relawan.
“Karena aku juga punya
jiwa. Berarti kemungkinan aku bisa seperti mereka atau bisa juga punya masalah
kejiwaan. Itulah mengapa aku bisa menghargai kesehatan jiwaku ketika bertemu mereka.
Dari mereka aku belajar untuk bersyukur dan sadar kalau kesehatan jiwa yang
kita miliki sering kita lupakan padahal itu menempel di dalam diri”, ungkap
Tria di sebuah wawancara dengan CNN Indonesia.
Griya
Schizofren ini juga selalu menerima dengan tangan terbuka bagi siapa saja yang
ingin ikut berkontribusi memberikan kehidupan layak untuk ODMK secara materi.
Misalnya,
pada Desember 2017 dan Juni 2018 komunitas sosial ini mengadakan "Rice
Festival", yakni kegiatan festival kebaikan berbagi secangkir beras bagi
ODMK di Griya PMI Peduli. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya
kebutuhan beras di Griya PMI (sekitar 1,5 ton per bulan). Dengan festival
tersebut, diharapkan dapat membantu meringankan beban PMI.
Seni
yang Menyembuhkan, Karya yang Memberdayakan ODMK
Ada
banyak cara dalam merawat jiwa. Salah satunya lewat seni. Bagi ODMK, kegiatan menggambar,
mewarnai, atau bernyanyi adalah bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Akan
tetapi ini adalah jembatan bagi mereka untuk mengenali diri, menyalurkan emosi,
serta membangun kembali keterampilan sosial yang mungkin saja sempat hilang.
Salah
satu kegiatan ODMK di Griya Schizofren (Sumber: Instagram @griya.schizofren)
Di
Griya PMI Peduli, Tria bersama komunitas Griya Schizofren sering mengajak para ODMK
untuk berkarya dengan alat sederhana seperti pensil warna dan kertas. Namun
dari situlah lahir sesuatu yang lebih besar bagi mereka.
Tria
pun tidak ingin karya mereka hanya berhenti sebagai pajangan. Maka ia pun mendirikan
usaha sosial bernama SOLVE (Souvenir and Love) by Givo. Ide yang sederhana ini
ternyata cukup memberi dampak.
Gambar
para ODMK diolah secara digital dan dijadikan cendera mata seperti tas, mug,
atau gantungan kunci.
Salah
satu produk karya OMDK (Sumber: Instagram @solvenesia)
Sejak
2018, anak-anak muda di Surakarta pun ikut bergabung dalam gerakan ini. Mereka
membantu memilihkan gambar terbaik, lalu mengunggahnya ke media sosial. Selanjutnya
membiarkan pembeli menentukan sendiri karya mana yang ingin dijadikan sebagai suvenir.
Keuntungan
dari penjualan produk ODMK ini tidak berhenti di kas komunitas. Semua
dikembalikan kepada ODMK yang menggambar. ODMK tidak hanya dibantu, tetapi juga
diberdayakan. Harapannya agar semangat mereka tumbuh, terutama rasa percaya
diri.
“Setiap
goresan punya cerita. Dan ketika cerita itu dihargai, mereka merasa kembali
berarti,” kata Tria.
Apresiasi
SATU Indonesia Awards Mantapkan Hati untuk Terus Berdampak bagi Negeri
Apakah
aksi sosial yang dijalankan Tria tanpa hambatan? Tidak. Perjalanan ini tidak
selalu mulus. Tria pernah merasa lelah dan ingin menyerah. Ia pun menceritakan apa
yang dirasakannya kepada Siswandi, suaminya.
Ternyata
sang suami yang selalu mendukung penuh setiap kegiatan sosial istrinya, mendaftarkan
Tria ikut dalam apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards
tahun 2017.
Kontribusi
dan kepedulian Tria pada sekitarnya dinilai sangat menginspirasi dan berdampak
luas, hingga akhirnya ia pun dinyatakan layak menjadi salah satu penerima
apresiasi SATU Indonesia Awards 2017 Bidang Kesehatan.
Penerima
Apresiasi SATU Indonesia Awards 2027 (Sumber: Tempo.co)
“Menjadi
bagian dari SATU Indonesia Awards ini sungguh bukan karena aku lagi semangat
atau pesimis. Tapi aku benar-benar lagi down buat ngelanjutin komunitas Griya
Schizofren. Terima kasih Astra melalui Program SATU Indonesia Awards-nya. Astra
menjadi bagian nafas kebaikan yang jauh lebih panjang”, tulis Tria di akun
Instagramnya @uleetria.
Saat
mendapatkan hadiah uang dengan total Rp70juta dari Astra, Tria bingung untuk
menggunakan uang tersebut. Ia yang belum pernah memiliki uang sebanyak itu
ingin memenuhi kebutuhan pribadi. Ia diskusikan dengan keluaganya dan kemudia
mengirim pesan kepada sang suami.
Emasis,
panggilan akrab suaminya hanya mengatakan “Balikin ke niat awalnya kamu. Niat awalnya
untuk mensejahterakan, mengangkat derajat orang-orang dengan masalah kejiwaan. Nanti
Allah yang akan angkat derajat kamu.”
Ucapan
ini sontak menyadarkan Tria dan makin bersemangat dalam kegiatan sosialnya.
Apresiasi
SATU Indonesia Awards tersebut telah menjadi kobaran semangat untuk semakin memberi
dampak kebaikan yang lebih luas lagi dalam gerakan sosial.
Bagi
Tria, menjadi salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards bukan hanya
soal pencapaian bergengsi dengan nominal uang besar saat itu saja. Karena SATU
Indonesia Awards adalah bukan awarding ceremony sehari itu saja. Setiap penerima
apresiasi akan terus didampingi agar bisa terus berkembang. Bahkan para alumni
penerima awards terus dilibatkan untuk menyambut penerima baru yang hadir
setiap tahunnya.
Hingga
saat ini, Tria pun masih mendapatkan pendampingan dari Astra dan berkolaborasi
untuk berbagai kegiatan sosial.
Di
antaranya, pada Desember 2022 Griya Schizofren bersama Astra Internasional
wilayah Solo berkolaborasi membagikan 150 paket sembako dalam program
kemanusiaan Astra untuk desa binaan Kopassus.
Lalu
pada masa pandemi, Tria yang sebagai penerima kategori bidang kesehatan, dikirimkan
Astra kebutuhan berupa vitamin, sarung tangan, dan masker untuk disalurkan ke
Griya PMI Peduli Surakarta melalui Griya Schizofren.
Komitmen
ASTRA bagi Masa Depan Indonesia
Astra
telah menunjukkan komitmennya untuk berkontribusi pada masa depan Indonesia
melalui berbagai program dan inisiatif.
Salah
satunya adalah program SATU Indonesia Awards, di mana ASTRA memberikan
apresiasi kepada putra putri bangsa yang telah berdedikasi dan berkontribusi
mendukung terciptanya kehidupan berkelanjutan melalui lima bidang, yakni
Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.
Hingga
di usia yang ke 16 tahun pada tahun 2025 ini, ASTRA terus mencari sosok pemuda
pemudi, yang menjadi pengerak bangsa yang bisa memberi perubahan nyata di
masyarakat.
Hal
ini menunjukkan bahwa Astra terus berupaya untuk memberikan kontribusi positifnya bagi
masyarakat dan bangsa Indonesia untuk hari ini dan masa depan Indonesia
tentunya, di mana kontribusi ini juga sejalan dengan cita-cita ASTRA untuk
sejahtera bersama serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs)
Indonesia.
Satukan
Gerak, Terus Berdampak
Hingga
saat ini, Tria masih aktif melanjutkan kampanye sosialnya untuk mengubah stigma
terhadap ODMK. Bersama para relawan, ia gigih memperjuangkan Indonesia bebas
stigma, terutama agar OMDK tidak lagi dikucilkan dan bisa mendapatkan hak hidup
layak sebagai manusia seutuhnya.
Dalam
kampanyenya, Tria tak bosan menginformasikan bahwa ODMK bukan aib dan mereka tidak
berbahaya. Buktinya adalah dirinya sendiri yang selalu baik-baik saja saat
berkunjung ke Griya PMI Peduli Sukarta dan berinteraksi langsung dengan para OMDK.
Bagi
Tria, melihat senyum Bahagia yang terlukis di wajah para relawan dan ODMK
adalah salah satu pecut semangat Tria untuk terus memupuk harapan pemulihan
kondisi kejiwaan para OMDK.
Tria
bermimpi, kelak Griya Schizofren dapat hadir di seluruh Indonesia dengan
prinsip sosial dan kemanusiaan untuk merangkul OMDK, karena mereka juga manusia
yang punya rasa sama dengan kita.
Griya
Schizofren yang lahir dari kegelisahan seorang mahasiswi ini telah berkembang
menjadi gerakan sosial luar biasa dengan dampak positifnya. Ia kini menjadi
rumah bagi banyak ODMK.
Kisah
ini bukan sekadar tentang mereka, akan tetapi juga tentang kita semua yang
disebut manusia. Apakah kita mau melihat ODMK sebagai manusia seutuhnya, atau
terus menutup mata dengan stigma?
Kalau
seorang Tria bisa memulai dari langkah kecil membangun harapan bagi OMDK dengan
beryanyi bersama, mendengarkan cerita, ataupun menggambar, maka kita juga bisa
selama punya tekad dan niat tulus.
Mari
kita lihat sekitar dengan menggunakan Nurani, karena ini adalah cara terbaik membangun
kesadaran sebagai manusia. Dan memanusiakan orang lain, adalah cara terbaik
untuk tetap menjadi manusia.
#KitaSATUIndonesia
Referensi:
https://kemkes.go.id/id/memutus-rantai-stigma-kesehatan-jiwa
https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/5532/1/03%20factsheet%20Keswa_bahasa.pdf
https://www.antaranews.com/berita/3812061/menkes-1-dari-10-orang-indonesia-alami-gangguan-kesehatan-jiwa
https://peraturan.go.id/files/uu18-2014pjl.pdf
Instagram
resmi Triana Rahmawati @uleetria
Instagram
resmi Griya Schizofren @griya.schizofren
Percakapan
online Bersama Triana Rahmawati melalui Instagram


Semoga dengan apresiasi yang digiatkan ASTRA menjadi penyemangat bermunculannya Kak Tria lain dengan Griya Scizofren yang merangkul ODMK yang selalu ada hampir di setiap pelosok di negeri ini.
ReplyDeleteSelamat untuk kak Tria untuk ASTRA Award-nya.
Aamiin. Iya kak, semoga Indonesia makin maju dan a big thanks to ASTRA yang sebegitu care dengan masa depan Indonesia melalui program2nua
DeleteIni hal yang mindblowing bagi saya pribadi dan saya sangat salut dengan inovasi yang sudah diterapkan. Stop beri stigma negatif terhadap ODMK, mari membersamai mereka untuk bisa terus berkarya.
ReplyDeleteSalut banget ya sama mereka yang berdedikasi tinggi bagi sekitarnya, terlebih yg mau menyentuh mereka yg terpinggirkan seperti ODMK
Deleteerkah banget langkah Tria dengan Griya Schizofren ya?
ReplyDeleteKarena sekarang semakin banyak anak muda mengalaminya tapi bingung mau ke mana
Tau sendiri, biaya ke dokter spesialis kan mahal
Istilah ODMK baru saya tahu. Sebelumnya sering menggunakan ODGJ.
ReplyDeleteTerlepas apapun istilahnya, mereka memang manusia yang sedang membutuhkan perhatian khusus. Kita yg sehat ini yg seharusnya memperhatikan mereka
Salut dengan pihak yang selalu berkorban untuk kepentingan ODMK ini
Saya setuju sekali bahwa stigma adalah tembok terbesar yang menghalangi ODMK untuk mendapatkan pertolongan yang layak. Penting bagi kita, untuk menghapus label negatif dan menggantinya dengan empati serta dukungan. Beri kesempatan mereka untuk berkarya.
ReplyDeleteIya sih. Masih banyak orang yang menganggap ODMK (meski aku lebih akrab dengan istilah ODGJ) sebagai aib. Makanya, bukannya nggak banyak orang yang ODMK malah terpasung dan dijauhi keluarga.
ReplyDeleteBagus-bagus totebag karya pada ODMK tersebut. Kalau dibimbing dan didampingi mereka ini sama aja kok dengan kita-kita. Semoga kiprah Griya Schizofren menular juga vibes positifnya ke kota-kota lain yah...
ReplyDeleteBelum banyak pihak yg mau untuk bergerak dalam merawat serta memberikan pendampingan para ODMK karena beberapa alasan padahal memahami tentang isu kejiwaan adalah penting bagi segenap masyrakat.
ReplyDeleteJaman sekarang kita kudu melek mengenai ODMK. karena mereka butuh pendampingan serta perhatian kita. Jika diterapi dan minum obat insyaallah mereka akan sembuh dan normal kembali walaupun tetap harus rutin minum obat.b
ReplyDelete( fania surya)
Delete