Skip to main content

Syifa Izzatunnisa



"Bagaimana kamu ini, lihat usiamu sudah berapa. Mengapa kamu tampak nyaman dan sepertinya tidak peduli. Malah sibuk mengikuti aktivitas bersama teman-teman kajian. Bisa tidak sekali-kali kamu pikirkan duniamu. Jangan urusan akhirat terus. Semua harus seimbang. Bagaimana kamu bisa menikah jika jalan pikiranmu seperti ini? Tidak mau bergaul dengan lawan jenis sedikitpun." Cecar pak Narto bernada emosi

Belum sempat menanggapi, sang Bibi yang sejak tadi juga tampak tak sabar ingin berceloteh, langsung menghujani Syifa dengan komentar cukup pedas di telinga. 

"Kamu ingin membuat Bapak dan Ibumu menanggung malu? Lihat semua perempuan seusiamu sudah punya suami. Bahkan yang usianya dibawahmu banyak yang sudah menggendong anak. Kamu tidak malu? Kasian orangtuamu selalu jadi gunjingan di kampung ini karena anak perempuannya tak kunjung bersuami. Apa lagi yang kamu tunggu. Ingat usuamu. Nanti kamu jadi perawan tua seperti Komariah. Atau kamu memang tak tertarik dengan laki-laki?"

"Astaghfirullah...Bibi, demi Allah Syifa tudak seperti itu. Jodoh itu bagian rahadia Allah. Kita hambanya hanya bisa taat dan berusaha agar Allah menyegerakannya. Dan salah satu bentuk taat itu adalah menjaga diri agar tidak tejerumus ke dalam hubungan yang belum halal. Allah sangat melarang itu."

"Lantas mengapa kamu sepertinya nyaman dengan statusmu ini. Sementara di luar sana sudah banyak bibir yang membicarakanmu. Mengapa kamu tidak berusaha?" Tambah sang Bibi.

"Dia jadi aneh sejak ikut kelompok ngaji (hijaber) di kampung sebrang saat masuk sekolah menengah." Sang Bapak yang masih memasang raut kesal itu menimpali.

Sejak memutuskan berhijrah 6 tahun lalu dan mulai mendalami ilmu agama, Syifa Izzatunnisa memang sangat membentengi dirinya dari hal-hal buruk dan dilarang Allah. Terutama untuk masalah adab bergaul dengan lawan jenisnya. Ia ingin bisa menjadi wanita sholeha yang disayang Allah. 

Meskipun suasana obrolan sore itu terasa cukup panas, Syifa tetap menjaga kesantunannya dalam mendengar dan merespon kedua orang yang disayangnya itu. 

"Bapak dan Bibi, Syifa paham kalian sangat sayang dan peduli dengan Syifa. Begitupun sebaliknya, Syifa sangat sayang dan ingin membahagiakan hidup orang-orang terdekat Syifa. Karena itu Syifa tidak ingin Bapak dan Ibu kelak di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, "“Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” Nah, kalau kita belum sah menikah maka tidak boleh berhubungan dengan lawan jenis. Hal itu sangat dilarang dan berdosa. Yang namanya pacaran kan pastinya sering berdua, kemana-mana berdua. Dan jika perempuan dan laki-laki suka berduaan tanpa mahramnya, maka akan mudah digoda setan. Hingga melakukan dosa. Dan Syifa tidak ingin hal itu terjadi. Syifa ingin nanti menikah atas rudho Allah. 

Sang Bapak dan Bibi terdiam. Suasana sore pun hening seketika. Tak lama terdengar suara batuk dari arah kamar di sebelah kanan ruangan. Syifa pun bergegas bangkit menuju ke kamar itu. "Ibu." Sapanya ketika masuk ke dalam. Wanita yang terbaring lemah di tempat tidur itu mencoba duduk. Syifa segera membantu Ibunya untuk duduk bersandar di tempat tidur. Tatapan wanita itu terlihat lemah. Namun rona bahagia terlukis dari wajah pucatnya saat Syifa mendekat. "Yang Sabar ya sayang. Bapak dan Bibi itu peduli sama kamu. Mereka sangat menyayangimu, Nak." Kata sang Ibu.

"Syifa paham kok, Bu," Jawabnya sambil tersenyum dan bergelayut manja di pundak Ibunya. "Ya sudah sana temui Bapak dan Bibimu. Mereka pasti masih menunggu." 

Syifa melangkah keluar. Bapak dan Bibinya tampak masih diam seribu bahasa. Saat Syifa kembali duduk, sang Bapak mulai berbicara kembali. Kali ini dengan nada yang tanpa emosi. "Syifa, Bapak hanya ingin yang terbaik bagimu. Bapak tidak ingin kamu nanti hidup sendirian. Bapak dan Ibu sudaj tua. Ibumu pun sakit-sakitan." 

"Syifa paham, Pak. Doakan saja Syifa terus istiqomah dalam ketaatan. InsyaAllah jodoh Syifa sudah Allah siapkan. Jika pun tidak di dunia, di akhirat kelak Syifa akan berpasangan dengannya. Bapak dan Bibi tidak usah memikirkan ucapan orang. Yang penting Syifa tetap jadi anak baik kebanggaan kalian. 


#OneDayOnePost #ReadingChallengeOdop #Tugaslevel2 #level2tantangan2




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Game Level 3 Day 4: Mencari Peluang Lewat Lomba

Untuk mendapatkan suatu keinginan tidaklah melulu harus dipenuhi dengan mengeluarkan sejumlah nominal pribadi. Karena sejatinya ada banyak cara untuk bisa meraihnya. Salah satunya adalah melalui sebuah kompetisi. Tetapi untuk hal ini diperlukan beberapa faktor agar dalam sebuah kompetisi kita bisa menjadi pemenangnya.  Aku sangat suka menantang diri untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai tantangan atau pun kompetisi. Terutama dalam bidang kepenulisan. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan sekaligus mengasah ilmu yang dimiliki. Kebetulan sedang ada lomba blog yang menawarkan hadiah smartphone terbaru. Wah...kenapa tidak kucoba. Pikirku. Aku kan ingin #GantiGadget2019. Akhirnya kumulai menulis di blog utama untuk me- review smartphone yang sedang dilombakan. Semangat dan keyakinan sangat membantuku dalam mengetikkan kata demi kata. Artikel yang diminta harus natural (soft selling) dan penyampaian menarik. Setelah selesai dengan artikel, dengan penuh percaya diri ...

Think Positively

Emosi merupakan bagian dari kemudi kehidupan yang dapat mempengaruhi kualitas kehidupan. Itulah mengapa kita perlu mengolah emosi dengan baik, agar memberikan kontribusi yang positif dalam roda kehidupan. Tidak perlu bereaksi berlebihan ketika dihadapkan pada sanjungan atau pun kritikan. Tetapi jadikan sema itu sebagai sarana membangun sikap dan karakter diri yang lebih bijak. Senang sekali rsanya saat karya kita diapresiasi oleh orang lain. Meskipun hanya sebatas pujian sederhana. Paling tidak respon positif itu telah menjadi suntikan semangat untuk terus berkarya. Dalam sebuah diskusi group fotografi, kuberanikan diri meng- upload hasil memotret saat berada di Tangkuban Perahu. Banyak yang kagum dengan foto itu. Dan beberapa ada yang memuji hasil jepretan amatiran sepertiku. Namun tak semua menaggapi dengan pujian. Ada juga yang mengkritik. Intinya memberikan kritikan membangun bahwa masih banyak yang harus kupelajari lebih dalam untuk menghasilkan foto bagus dan berkua...

Game Level 4: Gaya Belajar Day 2

Dua pekan lalu aku mendapatkan voucher dari cafe G’Ummati karena berhasil memenangkan lomba blog bertema “Sensor Mandiri,Bijak Membentuk Generasi”. Dan hari ini aku pergi ke cafe tersebut untuk memanfaatkan nominal voucher yang kudapatkan. Alhamdulillah bisa makan sepuasnya dan tambahan membawa pulang menu makanan lainnya. Selama menunggu pesanan, kumanfaatkan waktu memerhatikan sekitar dan mencatat hal-hal menarik yang tertangkap oleh mata. Ya, ini juga merupakan bagian kebiasaanku saat berada di sebuah tempat. Dan biasanya hasil pengamatan ini kugunakan sebagai bahan untuk membuat tulisan di blog. Hmm…lumayan lama juga menunggu. Jika dibiarkan tanpa aktivitas, bisa-bisa rasa jenuh dan bad mood datang menghampiri. Suasana cafe memang tidak sepi. Ada alunan musik dan banyak orang. Tetapi kondisiku yang sendirian sangat berpotensi mengundang rasa jenuh tentunya. Segera kukeluarkan jurnal dan mulai mengembangkan ide-ide yang ada di jurnal. Alhamdulillah bisa menyicil tulisan yan...