Skip to main content

Game Level 4: Gaya Belajar Day 1

Source: Google.com


Gaya belajar terbagi atas tiga tipe, yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Dan setiap anak memiliki gaya belajarnya sendiri, yang kemudian hal ini dapat mendukung anak-anak dalam memahami dan menyerap setiap ilmu yang diberikan. Karenanya kita tidak bisa memaksakan seorang anak untuk mengikuti metode belajar yang kita inginkan. Hal ini justru akan berdampak pada penurunan prestasi dan kemampuan yang dimiliki seorang anak. Untuk itulah kita harus mengenali cara atau gaya belajar setiap anak, agar mereka mampu dengan mudah menguasai materi dan ilmu yang diberikan.

Saat usia sekolah dasar hingga perguruan tinggi, aku cenderung lebih suka menyerap ilmu yang diberikan guru dengan fokus mendengarkan sambil merekam dalam otak apa yang disampaikan. Sambil mendengarkan, biasanya aku juga suka membuat catatan-catatan pada buku coretan. Biasanya catatan itu berupa poin-poin pentingnya saja. Jadi hanya berupa coretan-coretan. Setelah materi selesai, dan ada waktu senggang, biasanya aku akan merapihkan catatan tadi pada buku lain, dengan mengembangkan poin-poin tadi sambil mengingat apa yang dijelaskan. Selain itu aku juga lebih suka menggunakan bahasaku sendiri saat membuat catatan. Yang terpenting apa yang kucatat tetap memiliki makna yang sama dengan yang disampaikan. Karena pada dasarnya aku juga kurang suka mengingat sesuatu secara text book. Karena hal itu membuatku kesulitan jika aku lupa satu kata saja dari isi sebuah buku. Itulah mengapa aku lebih suka mengembangkannya dengan kata-kata sendiri.

Kebiasaan belajar ini juga ikut mempengaruhi caraku mengajar murid di kelas. Jadi saat ada test, aku tidak terlalu menekankan bahwa jawaban murid harus persis sama dengan dengan apa yang ada dalam buku cetak mereka,seperti yang guru-guru lain terapkan. Karena bagiku itu akan membebankan murid dengan kewajiban menghapal, yang terkadang justru membuat mereka kehilangan kesempatan mendapat nilai lebih baik hanya karena lupa salah satu bagian kata atau kalimat. Misalnya ada soal menerjemahkan, “Sampaikan salam untuk Ibumu” di buku cetak terjemahnya adalah “Send my regards to your Mom”. Namun jika ada yang menjawab “Remember me to your Mom”, maka itu adalah juga jawaban yang tepat.

3 tahun lalu aku punya pengalaman terkait hal tersebut. Jadi saat itu level kelas yang kupegang sedang ujian kenaikan tingkat. Ada 4 orang guru yang memegang level itu. Dan saat seorang guru mengoreksi hasil ujian, ia menyalahkan jawaban murid hanya karena jawabannya tidak sama dengan apa yang tercantum di dalam buku cetak. Saat itu aku berusaha menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan jawaban murid tersebut. Karena jawaban itu juga mempunyai makna yang sama. Tetapi sang guru bersikeras bahwa jawabannya tidak sesuai. Hal ini tentu saja merugikan murid. Sangat disayangkan, bukan? Seharusnya guru paham bahwa dalam Bahasa Inggris bahkan Bahasa lainnya mempunyai kosa kata dengan arti dan maksud yang sama meski berbeda kata. Bukankah makna “Surrender your life to God” dan “Leave everything in God’s hands” itu sama saja? Lantas mengapa dianggap sebagai jawaban salah?
Hari ini kebetulan level Elementary 2 yang kupegang sedang ujian kenaikan level. Dan aku berpesan pada muridku untuk percaya diri pada diri mereka sendiri dan silahkan menjawab sesuai jawaban yang memang benar. Tidak perlu sama persis dengan isi buku. Yang terpenting jawaban itu maknanya sama dan merupakan jawaban yang benar untuk soal yang dimaksud.

Tabel gaya Belajar


#HariKe1
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Comments

Popular posts from this blog

Game Level 3 Day 4: Mencari Peluang Lewat Lomba

Untuk mendapatkan suatu keinginan tidaklah melulu harus dipenuhi dengan mengeluarkan sejumlah nominal pribadi. Karena sejatinya ada banyak cara untuk bisa meraihnya. Salah satunya adalah melalui sebuah kompetisi. Tetapi untuk hal ini diperlukan beberapa faktor agar dalam sebuah kompetisi kita bisa menjadi pemenangnya.  Aku sangat suka menantang diri untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai tantangan atau pun kompetisi. Terutama dalam bidang kepenulisan. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan sekaligus mengasah ilmu yang dimiliki. Kebetulan sedang ada lomba blog yang menawarkan hadiah smartphone terbaru. Wah...kenapa tidak kucoba. Pikirku. Aku kan ingin #GantiGadget2019. Akhirnya kumulai menulis di blog utama untuk me- review smartphone yang sedang dilombakan. Semangat dan keyakinan sangat membantuku dalam mengetikkan kata demi kata. Artikel yang diminta harus natural (soft selling) dan penyampaian menarik. Setelah selesai dengan artikel, dengan penuh percaya diri ...

Think Positively

Emosi merupakan bagian dari kemudi kehidupan yang dapat mempengaruhi kualitas kehidupan. Itulah mengapa kita perlu mengolah emosi dengan baik, agar memberikan kontribusi yang positif dalam roda kehidupan. Tidak perlu bereaksi berlebihan ketika dihadapkan pada sanjungan atau pun kritikan. Tetapi jadikan sema itu sebagai sarana membangun sikap dan karakter diri yang lebih bijak. Senang sekali rsanya saat karya kita diapresiasi oleh orang lain. Meskipun hanya sebatas pujian sederhana. Paling tidak respon positif itu telah menjadi suntikan semangat untuk terus berkarya. Dalam sebuah diskusi group fotografi, kuberanikan diri meng- upload hasil memotret saat berada di Tangkuban Perahu. Banyak yang kagum dengan foto itu. Dan beberapa ada yang memuji hasil jepretan amatiran sepertiku. Namun tak semua menaggapi dengan pujian. Ada juga yang mengkritik. Intinya memberikan kritikan membangun bahwa masih banyak yang harus kupelajari lebih dalam untuk menghasilkan foto bagus dan berkua...

Game Level 4: Gaya Belajar Day 2

Dua pekan lalu aku mendapatkan voucher dari cafe G’Ummati karena berhasil memenangkan lomba blog bertema “Sensor Mandiri,Bijak Membentuk Generasi”. Dan hari ini aku pergi ke cafe tersebut untuk memanfaatkan nominal voucher yang kudapatkan. Alhamdulillah bisa makan sepuasnya dan tambahan membawa pulang menu makanan lainnya. Selama menunggu pesanan, kumanfaatkan waktu memerhatikan sekitar dan mencatat hal-hal menarik yang tertangkap oleh mata. Ya, ini juga merupakan bagian kebiasaanku saat berada di sebuah tempat. Dan biasanya hasil pengamatan ini kugunakan sebagai bahan untuk membuat tulisan di blog. Hmm…lumayan lama juga menunggu. Jika dibiarkan tanpa aktivitas, bisa-bisa rasa jenuh dan bad mood datang menghampiri. Suasana cafe memang tidak sepi. Ada alunan musik dan banyak orang. Tetapi kondisiku yang sendirian sangat berpotensi mengundang rasa jenuh tentunya. Segera kukeluarkan jurnal dan mulai mengembangkan ide-ide yang ada di jurnal. Alhamdulillah bisa menyicil tulisan yan...