![]() |
| Source: Google.com |
Gaya belajar terbagi atas tiga
tipe, yaitu gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Dan setiap anak
memiliki gaya belajarnya sendiri, yang kemudian hal ini dapat mendukung
anak-anak dalam memahami dan menyerap setiap ilmu yang diberikan. Karenanya
kita tidak bisa memaksakan seorang anak untuk mengikuti metode belajar yang
kita inginkan. Hal ini justru akan berdampak pada penurunan prestasi dan
kemampuan yang dimiliki seorang anak. Untuk itulah kita harus mengenali cara
atau gaya belajar setiap anak, agar mereka mampu dengan mudah menguasai materi
dan ilmu yang diberikan.
Saat usia sekolah dasar hingga
perguruan tinggi, aku cenderung lebih suka menyerap ilmu yang diberikan guru
dengan fokus mendengarkan sambil merekam dalam otak apa yang disampaikan. Sambil
mendengarkan, biasanya aku juga suka membuat catatan-catatan pada buku coretan.
Biasanya catatan itu berupa poin-poin pentingnya saja. Jadi hanya berupa
coretan-coretan. Setelah materi selesai, dan ada waktu senggang, biasanya aku akan
merapihkan catatan tadi pada buku lain, dengan mengembangkan poin-poin tadi
sambil mengingat apa yang dijelaskan. Selain itu aku juga lebih suka
menggunakan bahasaku sendiri saat membuat catatan. Yang terpenting apa yang
kucatat tetap memiliki makna yang sama dengan yang disampaikan. Karena pada
dasarnya aku juga kurang suka mengingat sesuatu secara text book. Karena hal itu membuatku kesulitan jika aku lupa satu
kata saja dari isi sebuah buku. Itulah mengapa aku lebih suka mengembangkannya
dengan kata-kata sendiri.
Kebiasaan belajar ini juga ikut
mempengaruhi caraku mengajar murid di kelas. Jadi saat ada test, aku tidak terlalu menekankan bahwa jawaban murid harus persis
sama dengan dengan apa yang ada dalam buku cetak mereka,seperti yang guru-guru
lain terapkan. Karena bagiku itu akan membebankan murid dengan kewajiban
menghapal, yang terkadang justru membuat mereka kehilangan kesempatan mendapat
nilai lebih baik hanya karena lupa salah satu bagian kata atau kalimat. Misalnya
ada soal menerjemahkan, “Sampaikan salam untuk Ibumu” di buku cetak terjemahnya
adalah “Send my regards to your Mom”.
Namun jika ada yang menjawab “Remember me
to your Mom”, maka itu adalah juga jawaban yang tepat.
3 tahun lalu aku punya pengalaman
terkait hal tersebut. Jadi saat itu level kelas yang kupegang sedang ujian
kenaikan tingkat. Ada 4 orang guru yang memegang level itu. Dan saat seorang
guru mengoreksi hasil ujian, ia menyalahkan jawaban murid hanya karena
jawabannya tidak sama dengan apa yang tercantum di dalam buku cetak. Saat itu
aku berusaha menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan jawaban murid
tersebut. Karena jawaban itu juga mempunyai makna yang sama. Tetapi sang guru
bersikeras bahwa jawabannya tidak sesuai. Hal ini tentu saja merugikan murid. Sangat
disayangkan, bukan? Seharusnya guru paham bahwa dalam Bahasa Inggris bahkan
Bahasa lainnya mempunyai kosa kata dengan arti dan maksud yang sama meski
berbeda kata. Bukankah makna “Surrender
your life to God” dan “Leave
everything in God’s hands” itu sama saja? Lantas mengapa dianggap sebagai
jawaban salah?
Hari ini kebetulan level
Elementary 2 yang kupegang sedang ujian kenaikan level. Dan aku berpesan pada
muridku untuk percaya diri pada diri mereka sendiri dan silahkan menjawab
sesuai jawaban yang memang benar. Tidak perlu sama persis dengan isi buku. Yang
terpenting jawaban itu maknanya sama dan merupakan jawaban yang benar untuk
soal yang dimaksud.
![]() |
| Tabel gaya Belajar |
#HariKe1
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP


Comments
Post a Comment